Universitas Putra Bangsa Surabaya

Dosa Besar Menelantarkan Orang Tua Menurut Al-Quran

Dosa Besar Menelantarkan Orang Tua Menurut Al-Quran

Ada kisah yang sering terdengar di masyarakat kita — seorang anak yang sukses secara materi, memiliki rumah mewah dan kendaraan bagus, namun orang tuanya dibiarkan hidup sendiri tanpa perhatian. Bukan karena lupa, tapi memang sengaja menjauh. Dalam Islam, kondisi seperti ini bukan sekadar masalah sosial biasa — ini menyangkut dosa besar menelantarkan orang tua yang disebutkan langsung dalam Al-Quran.

Allah SWT menempatkan kewajiban berbakti kepada orang tua tepat setelah perintah untuk beribadah hanya kepada-Nya. Ini bukan kebetulan. Dalam Surah Al-Isra ayat 23, Allah berfirman agar kita tidak menyembah selain Dia, dan berbuat baik kepada ibu bapak. Posisi ini menegaskan betapa seriusnya urusan memperlakukan orang tua dalam pandangan Islam.

Nah, yang perlu kita pahami lebih dalam adalah bahwa menelantarkan orang tua bukan hanya soal tidak memberi nafkah. Banyak orang mengira selama kebutuhan fisik orang tua terpenuhi, kewajiban sudah selesai. Padahal Al-Quran berbicara jauh lebih dalam dari itu.


Dosa Besar Menelantarkan Orang Tua dalam Perspektif Al-Quran

Larangan Keras yang Tertulis Jelas

Al-Quran tidak hanya memerintahkan berbakti — ia juga secara spesifik melarang menyakiti orang tua dalam bentuk apapun. Surah Al-Isra ayat 23 menyebutkan: “Janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka.”

Kata “ah” — yang dalam bahasa Arab disebut uff — adalah ekspresi paling ringan dari rasa tidak suka. Jika ungkapan sekecil itu saja dilarang, bayangkan betapa besarnya dosa meninggalkan orang tua tanpa perhatian, membiarkan mereka kesepian, atau bahkan mengabaikan kebutuhan mereka di hari tua.

Faktanya, para ulama sepakat bahwa menelantarkan orang tua termasuk dalam kategori dosa besar (al-kaba’ir). Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kaba’ir secara eksplisit memasukkan uquuqul walidain — durhaka kepada orang tua — sebagai salah satu dosa yang paling berat dalam Islam.

Hubungan Langsung dengan Ridha Allah

Rasulullah SAW bersabda bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka orang tua. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan dinilai hasan. Ini artinya, seseorang yang menelantarkan orang tua secara tidak langsung memutus jalur menuju ridha Allah.

Menariknya, konsekuensi dari durhaka kepada orang tua disebutkan tidak hanya akan dirasakan di akhirat. Nabi SAW dalam beberapa riwayat menyebut bahwa azab bagi yang durhaka kepada orang tua disegerakan di dunia. Ini menjadi pengingat keras bahwa dosa ini memiliki dimensi yang melampaui urusan akhirat semata.


Bentuk-Bentuk Penelantaran yang Sering Tidak Disadari

Penelantaran Emosional dan Psikologis

Tidak sedikit yang merasa sudah cukup memenuhi kebutuhan makan dan tempat tinggal orang tua, tapi tidak pernah menelepon, tidak pernah mengunjungi, dan tidak pernah menanyakan kabar. Ini adalah bentuk penelantaran emosional yang dampaknya bisa sangat menyakitkan bagi orang tua.

Al-Quran dalam Surah Al-Isra juga memerintahkan kita untuk berkata dengan perkataan yang mulia (qaulan karima) dan merendahkan diri di hadapan orang tua dengan penuh kasih sayang. Perintah ini jelas menunjukkan bahwa hubungan emosional adalah bagian dari kewajiban, bukan sekadar pilihan.

Tidak Memberi Nafkah Saat Mampu

Ketika orang tua sudah lanjut usia dan tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri, kewajiban anak untuk menanggung nafkah mereka menjadi sangat jelas dalam syariat Islam. Menolak memberikan nafkah kepada orang tua yang membutuhkan sementara anak dalam kondisi mampu, termasuk dalam kategori kezaliman serius.

Fiqh Islam menetapkan bahwa nafkah kepada orang tua hukumnya wajib bagi anak laki-laki yang mampu, dan sebagian ulama memperluas kewajiban ini kepada anak perempuan juga dalam kondisi tertentu. Jadi ini bukan sekadar anjuran moral — ini kewajiban hukum dalam Islam.


Kesimpulan

Dosa besar menelantarkan orang tua menurut Al-Quran bukan sekadar isu fikih yang dibahas di buku-buku agama. Ini adalah realita yang bisa menimpa siapa saja, terutama di tengah kesibukan yang makin menyita waktu dan perhatian. Al-Quran sudah memberikan panduan yang sangat jelas, dan posisi orang tua dalam Islam tidak bisa dianggap remeh.

Mulai dari hal paling kecil — menelepon secara rutin, mengucapkan kata-kata lembut, meluangkan waktu berkunjung — semua itu adalah bentuk konkret dari birrul walidain yang diperintahkan Allah. Jangan tunggu momen penyesalan datang setelah orang tua tidak lagi ada, karena waktu adalah hal yang tidak bisa dikembalikan.


FAQ

Apa hukum menelantarkan orang tua dalam Islam?

Menelantarkan orang tua dalam Islam termasuk dosa besar yang disebut uquuqul walidain atau durhaka kepada orang tua. Para ulama sepakat bahwa perbuatan ini diharamkan berdasarkan dalil Al-Quran dan hadis, dan pelakunya terancam azab baik di dunia maupun di akhirat.

Apakah menelantarkan orang tua disebutkan langsung dalam Al-Quran?

Al-Quran tidak menyebut kata “menelantarkan” secara harfiah, namun Surah Al-Isra ayat 23–24 secara tegas memerintahkan berbakti kepada orang tua dan melarang segala bentuk menyakiti mereka, termasuk ucapan ringan seperti “ah”. Para ulama menafsirkan penelantaran sebagai bentuk pelanggaran terhadap ayat-ayat ini.

Apa saja bentuk penelantaran orang tua yang termasuk dosa besar?

Bentuk penelantaran yang termasuk dosa besar antara lain: tidak memberikan nafkah padahal mampu, mengabaikan secara emosional, tidak berkomunikasi, membentak atau merendahkan, serta menolak merawat orang tua yang sakit atau sudah lanjut usia dan membutuhkan bantuan.

Exit mobile version